suku batak

suku batak
baju adat khas suku batak

Minggu, 18 Juli 2010

Hubungan suku batak dengan Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul

Siapakah GURU TATEA BULAN?

(Bertemu dirumah persembahan Guru Tatea Bulan…)

01.10.05 17:04
“Bertemu” Leluhur di Toba Na Sae

Liputan6.com, Samosir: Pemandangan di sekitar Danau Toba, Sumatra Utara, memang teramat memanjakan mata. Namun di balik keindahan itu, perbukitan sekeliling wilayah yang menjadi andalan pariwisata Provinsi Sumatra Utara ini menyimpan kisah tersendiri bagi etnis Batak. Tepatnya di perbukitan Pusuk Buhit di Kecamatan Sianjur Mulamula, Kabupaten Samosir.

Berdasarkan legenda,Pusuk Buhit merupakan asal mula leluhur orang Batak. Syahdan pada abad XII keturunan pertama kali orang Batak yang bernama Siraja Batak singgah di wilayah Toba Samosir. Siraja Batak memiliki anak yang bernama Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon. Daftar Silsilah atau garis keturunan menunjukkan, Guru Tatea Bulan juga merupakan leluhur tua dari Raja Sisingamangaraja.

Bertolak dari silsilah situlah, saban tahun di bulan tertentu sesuai penanggalan setempat, sebagian orang Batak yang percaya akan keberadaan leluhurnya menapak tilas di Pusuk Buhit. Napak tilas ini dianggap penting buat mengingat kembali asal-muasal mereka.

Untuk menuju rumah persembahan Guru Tatea Bulan, orang Batak yang tinggal di perantauan maupun penduduk setempat harus menapaki ketinggian bukit yang mencapai 1.000-1.800 meter di atas permukaan laut dengan berjalan kaki. Walau cukup melelahkan, mereka menganggap menelusuri jejak leluhur adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Sebagian warga suku Batak menganggap Guru Tatea Bulan adalah leluhur yang suci. Berada di rumah persembahan Guru Tatea Bulan diibaratkan sebagai sebuah pertemuan antara nenek moyang dan para cucunya.

Diriwayatkan, Guru Tatea Bulan mempunyai empat anak, yakni Saribu Raja, Limbong Maulana, Sagala Raja, Malau Raja, dan Raja Uti. Di puncak Pusuk Buhit, patung-patung perlambang silsilah Guru Tatea Bulan dan anak-anaknya tersebar. Terkadang, para peziarah menghaturkan doa di hadapan patung persembahan. Melalui patung Guru Tatea Bulan dan Raja Uti, doa dipanjatkan kepada Mulajadi Na bolon yang dipercaya sebagai Tuhan dalam kepercayaan leluhur orang Batak. Maka, ziarah dan berdoa adalah kegiatan awal sebelum mereka menggelar ritual Tatea Bulan, sebuah upacara adat untuk menghormati sang leluhur.

Salah satu anak Guru Tatea Bulan yang paling memiliki kesaktian adalah Raja Uti. Konon pada abad pertengahan, Raja Uti berhasil menguasai Tanah Batak dan wilayah Barus, Sumatra. Itu berlangsung sebelum kerajaan Islam berkuasa di sana. Tak mengherankan, bila Raja Uti saat itu dianggap sebagai reinkarnasi dari Tuhan atau yang lazim disebut Mulajadi Nabolon.

Sebagian orang Batak percaya bahwa Raja Uti sering singgah di lokasi yang bernama Batu Sawan. Di Batu Sawan-lah diduga mengalir air yang sering dijadikan pemandian dan ritual kepercayaan adat Batak. Orang Batak yang tinggal di daerah itu menyebutnya sebagai air berkah. Rangkaian ziarah ini dilakukan sebagian orang Batak, sebelum mereka melaksanakan ritual Tatea Bulan.

Menjelang upacara Tatea Bulan, aktivitas warga di Pasar Pagi Limbong, Desa Siputidai, Kecamatan Sianjur Mulamula, Kabupaten Samosir, berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Amani Marna Limbong, seorang pambuhai atau tetua dalam acara adat Tatea Bulan pun menjalankan rutinitas sebagai petugas retribusi di pasar seperti biasa.

Pak Marna, demikian penduduk desa adat tersebut menyapa dirinya. Kendati cukup terpandang, lelaki berperawakan sedang itu tetap berusaha mencari nafkah bagi diri dan keluarganya. Sehari-hari dia bisa mengantongi uang sekitar Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu.

Walaupun sudah enam tahun berperan sebagai pambuhai, Pak Marna tetap bergaul dengan warga biasa. Ia memang tak tinggi hati meski memiliki status sosial di atas sebagian besar penduduk. Dan, setelah menyelesaikan tugasnya di pasar, Pak Marna pun bergegas pulang ke rumah.

Sesampai di kediamannya, dia segera mempersiapkan alat-alat untuk upacara Tatea Bulan. Sementara di dalam rumah, istri dan keluarga Pak Marna pun menyiapkan tali sulaman. Tali ini dinamakan bonang manalu, berfungsi untuk mengikat batu ajimat pada saat upacara nanti.

Kendati demikian, ada beberapa hal yang harus dilakukan Pak Marna sebelum memimpin upacara. Ia pun kemudian mengenakan pakaian pambuhai. Tak lupa, sebuah pengiring atau ikat kepala dikenakannya. Pak Marna percaya, melalui pengiring, sang leluhur akan menuntun dan melindungi jiwa seseorang. Pria berusia 60 tahun ini tampak agung dalam pakaian sakralnya.

Pak Marna kemudian menyiapkan daun tujuh rupa. Antara lain sipilit, ropu, sirih, silinjuang, alum-alum, dan siritak. Sesajian dedaunan ini dipercaya dapat membuat upacara Tatea Bulan berlangsung dengan baik dan jauh dari godaan dan gangguan. Setiap daun dianggap memiliki kekuatan. Sipilit, misalnya, digunakan untuk menjauhkan diri dari amarah. Sedangkan ropu atau rotan sebagai perlambang perekat atau kesatuan untuk menghindarkan warga dari perpecahan.

Tak ketinggalan daun sirih. Inilah yang paling sering digunakan oleh orang Batak untuk menghaturkan penghormatan kepada Tuhan Mulajadi Nabolon. Adapun sirih dan jeruk purut diyakini sebagai syarat perwujudan doa agar permohonan mereka dapat dikabulkan oleh Mulajadi Nabolon.

Sudah enam tahun terakhir, Pak Marna berdoa dengan ritual tersebut. Melalui sesajen yang dibuat itulah, Pak Marna menghaturkan kebaikan dan menjauhkan hal yang negatif saat upacara Tatea Bulan akan dilaksanakan. Tak lupa, Pak Marna menyiapkan pelengkap utama dalam upacara Tatea Bulan, yakni Tombak Jurung Buhit. Tombak dari sang pambuhai itu adalah pamungkas bagi upacara sakral tersebut. Tombak ini nantinya digunakan untuk mengurbankan seekor kerbau sebagai perwujudan korban bagi Mulajadi Nabolon.

Saat yang ditunggu tiba, upacara Tatea Bulan pun digelar. Di tengah terik matahari, warga berkumpul untuk mengikuti upacara Tatea Bulan. Lokasi pertemuan itu bernama Batu Hobon, sebuah tempat suci yang diyakini sebagian orang Batak sebagai tempat harta kekayaan dari Guru Tatea Bulan.

Setiap tahun, warga Batak yang menghormati leluhurnya tersebut mendatangi batu persembahan itu. Tentunya, sembari membawa bekal sesajian. Para peziarah tak lupa membawa sirih, telur, dan jeruk purut. Seluruh sesajen itu dihaturkan di tengah Batu Hobon.

Konon, makna telur sebagai tanda kesuburan dan cikal bakal penerus bagi generasi selanjutnya. Sedangkan sirih merupakan tanda penghormatan dan penghaturan doa kepada Guru Tatea Bulan. Mereka meletakkan keranjang berisi hasil tani di atas Batu Hobon, sambil memohon permintaan agar hasil panen selalu diberkahi sang leluhur.

Dalam upacara Tatea Bulan ini dipersembahkan pula seekor kerbau. Para pemuka adat di Tanah Batak Toba mempercayai kerbau sebagai hewan kurban persembahkan bagi Mulajadi Nabolon atau Tuhan. Setelah dihias dengan hiasan lambe atau janur kuning dari daun pohon nira, kerbau itu dipindahkan ke borotan. Borotan adalah kayu tambatan sebagai pusat pelaksanaan upacara.

Pak Marna pun tiba di Batu Hobon dengan tombak pambuhainya. Tombak tradisional Jurung Buhit ini adalah warisan leluhur dan telah diberikan ropu atau simbol kekerabatan. Tombak Pambuhai segera ditegakkan menjurus ke langit, seakan menyebar mantra untuk menghindari pengaruh buruk.

Diiringi musik pargondang, para pendoa mulai menari dan melangkah kecil untuk mengitari borotan. Tarian ini dinamakan Tor Tor Mangliat. Gerakannya dipercaya sebagai bentuk doa dan rasa syukur. Dalam upacara ini, terkadang para peserta kerasukan. Dalam keadaan tak sadar, mereka memakan telur dan jeruk persembahan. Ini menandakan bahwa Raja Uti, anak dari Tatea Bulan, ikut menghadiri upacara.

Setelah proses pembuktian akan kehadiran leluhur mereka, sang pambuhai segera menarikan Gondang Tatea Bulan. Pak Marna menari dengan lincah dan gesit mengikuti tabuhan gendang, berputar mengelilingi delapan penjuru mata angin. Gerakan tarian ini diyakini sebagai penghaturan pembuka agar doa dan permintaan anak cucu Tatea Bulan dapat terkabul.

Pambuhai pun merapalkan mantra dan mengelilingi borotan sebanyak tiga kali. Saat tarian pambuhai tengah ditabuhkan ke delapan penjuru, Tombak Jurung Buhit menjadi pamungkas persembahan bagi para leluhur Tanah Batak.

Pambuhai memiliki kewajiban menusukkan tombak sebanyak tiga kali ke arah kerbau. Ketiga hunusan terkait dengan Dalihan Na Tolu atau bentuk tali kekerabatan di dalam marga Batak. Setiap hunusan merupakan ungkapan permintaan terhadap leluhur dan Tuhan Mulajadi Nabolon. Terutama agar memberikan keselamatan, kesejahteraan, dan perlindungan abadi bagi seluruh keturunan orang Batak.





KEMBALINYA KANJENG RATU NYI RORO KIDUL – BIDING LAUT

Setelah begitu lama menjadi penguasa pantai selatan akhirnya Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul diketahui dari mana asal muasalnya. Ternyata Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul adalah Biding Laut Putri Stilting dari Guru Tatea Bulan/Sibaso Bolon, hilangnya Biding Laut begini ceritanya;

Ketika terjadi skandal cinta antara Saribu Raja dengan Boru Pareme kedua adeknya Limbong Mulana dan Sagala Raja bersekutu untuk membunuh Saribu Raja karena dianggap telah membuat aib keluarga, kemudian Lau Raja segera memberitahukan serta menyuruh Saribu Raja agar pergi dari kampung halamannya. Mendengar berita dari adeknya bahwa Saribu Raja pergi meninggalkan kampung halamannya sedangkan Boru pareme bersembunyi ke hutan.

Sebelum berangkat Saribu Raja berpesan pada kakaknya Biding Laut agar menjaga dan membina adik-adik mereka semua. Katanya “seharusnya saya yang bertanggung jawab kak, untuk menjaga dan membina adek-adek kita tapi saya telah gagal dan akan pergi meninggalkan kampung halaman kita. Kakak tidak perlu mencari saya, permintaan saya kakak menjaga, memelihara, mengayomi adek-adek kita serta menjaga keutuhan nama besar keluarga kita”.

Dengan berlinang airmata Biding Laut bertanya, adikku kemana gerangan kamu pergi? kamu adikku juga, saya yang seharusnya menjaga kamu dari segala bahaya, apalagi yang berniat membunuhmu adalah adik kita, kamu tidak perlu takut, tinggallah disini, kita selesaikan permasalahanmu secara kekeluargaan. Namun tekad dan pendirian Saribu Raja sudah bulat untuk pergi.

Dia berpesan kepada Biding Laut dia akan ke Barat dan tidak perlu mencarinya. Sebagai anak sulung Biding Laut berpikir harus mencari adiknya dan mempersatukan kembali adik-adiknya. Biding Laut bertekad harus menemukan Saribu Raja agar terhindar dari pembunuhan adiknya. Biding Laut mengambil keputusan berangkat mencari adiknya Saribu Raja ke arah Barat. Pencarianpun mulai dilakukan Biding Laut sesuai yang dikatakan adiknya bahwa dia berangkat ke arah Barat. Biding Laut pun menelusuri jalan kearah Barat, karena sangat sayang terhadap adiknya, Biding Laut tidak mengenal siang dan malam bahkan terhadap hujan dan panas serta teriknya matahari tetap dilaluluinya. Meski telah menyusuri lembah, menyeberangi sungai, mendaki gunung namun Biding Laut tidak menemukan adiknya. Dalam benaknya dia bertanya apakah adiknya masih hidup atau adiknya sengaja membohingi dirinya dengan mengatakan dia pergi ke Barat padahal ke Timur!

Tanpa sadar Biding Laut sampai di sebuah desa ditepi pantai tempat sandar nelayan penangkap ikan, dengan penuh harapan dia bertanya pada seorang nelayan apakah pernah melihat seorang asing lewat atau tinggal di desa itu. Setiap orang yang ditanya Biding Laut selalu menjawab bahwa mereka tidak pernah ada yang melihat adiknya.

Dengan perasaan kesal dan kecewa memikirkan sang adik akhirnya Biding Laut beristirahat ditepi pantai untuk melepas rasa penat dan lelah. Dari pinggir pantai Biding Laut melihat sebuah pulau timbul pikirannya jangan ­jangan adikku bersembunyi disana, lalu dia bertanya kepada seorang nelayan, pak nama pulau itu apa? Sang nelayan menjawab, pulau mursala, lalu Biding Laut meminta pak nelayan untuk mengantarnya ke pulau tersebut. Setelah sampai dipulau itu, dia mencari disetiap pelosok pulau namun tidak menemukan adiknya Saribu Raja, biding laut berteriak-teriak memanggil nama adiknya dipulau itu namun tidak ada jawaban.

Sambil merenungkan kira-kira kemana lagi dia harus mencari adiknya, Biding Laut bersandar pada sebuah pohon sambil menikmati sejuknya anginyang berhembus membuat rasa kantuk tidak tertahankan tanpa sadar dia tertidur. Tanpa sepengetahuan Biding Laut ternyata dari seberang, ada seorang pemuda yang membuntutinya, pemuda itu kagum melihat keberanian Biding Laut dan kelembutan serta wajahnya yang cantik. Timbullah hasrat si pemuda itu untuk mendapatkan Biding Laut. Pemuda itu menghampiri Biding Laut yang tertidur pulas serta membangunkannya, pemuda itu menawarkan jasa untuk mengantarkan Biding Laut keseberang. Sambil berjalan Biding Laut bertanya kepada pemuda itu apakah pernah bertemu atau melihat orang asing karena saya sedang mencari adik saya Saribu Raja. Mengapa kamu mencari orang yang tidak tahu dimana dia berada kepada saya kata pemuda itu. Saya tidak pernah melihat ataupun mendengar Saribu Raja adikmu dan kalaupun saya pernah melihat atau mendengar saya tidak akan memberitahukannya sebab kamu anggun dan cantik jadi kamu lebih pantas menjadi istri saya, kata pemuda itu merayu. Mendengar jawaban pemuda itu Biding Laut naik pitam dan mengusir pemuda itu. Pemuda itupun pulang ke desanya dengan membawa dendam dihati.

Keesokan harinya pemuda itu memberitahukan kepada temannya bahwa ia ditantang dan dipermalukan oleh seorang gadis yang cantik dan sakti. Mendengar pengaduan pemuda itu teman-temannya marah serta mengajak pemuda itu menunjukkan dimana tempatnya dan berangkatlah mereka ke pulau mursala. Tanpa banyak tanya, anak-anak muda tersebut mengeroyok Biding Laut yang sedang santai menikmati segarnya udara pagi. Tangan dan kakinya diikat, ditelanjangi lalu diperkosa secara bergantian sampai Biding Laut tidak sadarkan diri lalu dibunuh dan mayatnya dibuang ke laut. Dia pasrah bahwa kematian akan datang, jasadnya boleh mati tetapi Roh kesaktiannya harus tetap hidup, sebab tugas belum terlaksana adiknya Saribu Raja harus ditemukan dimanapun dia berada.

Setelah lama mencari kakaknya yang hilang akhirnya Nantinjo mengetahui dimana keberadaan sang kakak lalu Nantinjo mengajak sorangannya nai Hotni dan panuturi beserta rombongan untuk menemui penguasa alam gaib ke pangandaran. Sesampai dipangandaran Nantinjo berbincang-bincang dengan Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul sebagai penguasa alam gaib adapun hasil perbincangan mereka ( Nan = Nantinjo, Nyi = Nyi Roro Kidul).

Nan ; Terimakasih saya ucapkan atas kesediaanmu menerima saya sebagai tamu, meskipun saya belum tahu siapa kamu yang sebenarnya tapi kamu telah membantu saya dua kali dalam tugas saya. Sekarang saya ingin mengetahui siapakah kamu sebenarnya? Siapa nama saudara kamu yang hilang?

Nyi ; Terima kasih atas kujungan kamu, kita memang sudah dua kali bertemu dan dengan ikhlas saya membantu sesuai dengan permintaanmu. Sayalah penguasa diseluruh pantai selatan, nama saya Nyi Roro Kidul. Kalau kamu bersedia membantu saya mencari dan mempertemukan dengan adikku Saribu Raja, Saya sangat berterima kasih katanya sambil menangis karena mengingat adiknya yang belum ditemukannya.

Nan ; Kalau demikian kamu adalah kakakku biding laut yang juga tidak diketahui dimana keberadaannya, hilang pada saat mencari abang Saribu Raja, saya adalah adikmu nantinjo yang paling bungsu dari sepuluh kita bersaudara. Tolong kamu ingat dulu barang kali kakak lupa akan masa kecil kita, Saribu Raja yang kakak cari abang saya juga,

Mendengar keterangan Nantinjo, Biding Lautpun memeluk adiknya sambil menangis melepas kerinduan yang sangat dalam, dan Nantinjo berjanjiakan berusaha secepatnya mempertemukan mereka.

Nyi ; Nama kecil saya memang Biding Laut namun saya sendiri sudah lupa bagaimana ceritanya sehingga disini saya disembah dan disebut Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul. Kalian boleh menyebut nama saya Biding Laut jikalau saya sudah menemukan adik saya Saribu Raja. Ini sudah merupakan janji terhadap diri saya karena saya merasa hanya Saribu Rajalah saudaraku, karena dialah saya jadi begini.

Setelah Nantinjo mempertemukan Biding Laut dengan Saribu Raja, Nantinjopun mengajak Biding Laut kembali ke keluarga namun Biding Laut meminta kepada nantinjo bahwa ia harus dijemput dari tempatnya di Parangtritis Yogyakarta. Dan yang terpenting, keturunan adiknya Saribu Raja yang harus menjemputnya. Permintaan Biding Laut disanggupi, lalu Namboru Nantinjo mengumpulkan satu team untuk menjemput Namboru Biding Laut ke Parangtritis, satu minggu sebelum berangkat Namboru Nantinjo memberikan pengarahan kepada team dan berpesan agar tidak menganggap enteng pekerjaan tersebut. Karena pekerjaan ini sangat berat mengingat banyaknya pengikut namboru Biding Laut yang tidak mau melepaskan dia kembali ke Raja Batak.

Pada Tanggal 1 Maret 2004 team dikumpulkan Namboru Nantinjo dirumah hasorangannya di cianjur. Sebelum berangkat, namboru memberikan nasehat serta menekankan untuk berhati-hati dan jangan anggap remeh, namboru juga meminta Oppung Raja Gumeleng-Geleng membantu. Oppung menyarankan kepada namboru agar memberikan sebutir telur kepada setiap orang yang ikut dalam team. Malam itu pun Oppung langsung menuju ke Parangtritis untuk mengamankan perjalanan team. Malam jam 20.00 WIB rombongan team dengan tiga mobil kijang berangkat menuju parangtritis bersama nai Hotni serta namboru Nantinjo.

Keesokan harinya team sampai di parangtritis dan langsung menuju pantai. Disana team mencoba melepas lelah sambil bermain di pantai, setelah lama mencari, team bertanya kepada penduduk kampung dimana tempat bersemanyamnya Nyi Roro Kidul. Tanya punya Tanya akhirnya team menemukan jalan menuju ketempat Namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut. Melihat jalan yang begitu sukar dilalui mobil, team tersebut sempat ragu namun nai Hotni mengatakan bahwa dia sudah pernah bermimpi bahwa tempat namboru Biding Laut adanya di gua dibawah bukit. Walaupun amat sukarnya jalan yang harus dilalui, team bersepakat untuk melanjutkan perjalanan sampai mereka dapat menemukan tempat namboru Kanjeng Ratu Nyi RoroKidul Biding Laut dan membawanya pulang kembali.

Sesampai dipuncak bukit team menemukan beberapa rumah, dan ternyata kendaraan hanya boleh sampai dikampung tersebut. Team bertanya kepada orang yang ada disekitar kampung ternyata adanya tempat yang mereka cari berada dikaki bukit tersebut. Sebagai penunjuk jalan team minta tolong kepada orang kampung untuk mengantarkan mereka ke kaki bukit. Pada waktu akan menuruni lembah, sebahagian team merasa kecut mengingat terjalnya jalan yangharus ditempuh. Ternyata sebelum turun ada “tempat permisi” disiapkan namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut. Kemudian team mengusulkan agar nai Hotni beserta team agar meminta pertolongan kepadanamboru dan Oppung. Setelah selesai team berembuk serta saling mengingatkan satu sama lain jikalau ada yang merasa tidak mampu menuruni lembah agartidak memaksakan diri untuk ikut. Ada tiga orang yang tidak ikut dan menunggu diatas karena mereka merasa tidak akan mampu menempuh jalan tersebut. Kemudian team yang tersisa mulai menuruni lembah dengan sangat hati-hati karena curamnya jalan menuju ketempat namboru. Waktu yang ditempuh tersebut untuk menuju kebawah ternyata memakan waktu lebih dari satu jam.

Sesampai dibawah, team merasa kaget dan kagum melihat indahnya tempat namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut. Sipenunjuk jalan kemudian memperkenalkan team dengan kuncen yang ada disana. Setelah beristirahat sejenak, team lalu mengajak kuncen menuju gua tempat namboru.Sebelum masuk sang kuncen mengingatkan agar team berhati-hati, dan ternyata memang jalan kedalam menuju gua tersebut harus merunduk sebab banyak bebatuan yang menonjol. Jika tidak berhati-hati kepala bisa bonyok terantuk batu. Maklumlah yang ada hanya lilin dan senter seadaya yang dapat dijadikan sebagai penerangan, sementara gua tempat namboru sangat gelap. Suasana didalam gua sangat hening. Team sangat terharu manakala dapat menemukan tempat namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut.

Setelah membakar kemenyan kuncen mulai berdoa dan menyarankan agar team berdoa menurut keyakinan masing-masing. Team juga diingatkan jangan lupa meminta apa yang dikehendaki mereka, kemudian masing-masing mereka berdoa. Selesai berdoa nai Hotni sudah mulai gelisah ketika akan naik ketempat orang meletakkan kembang. Kemudian nai Hotni meminta selendang namboru dari ama nihotni. Tidak lama kemudian namboru biding laut datang dengan menumpang ke tubuh nai Hotni namboru mengucapkan “Horas Pomparanku” yang membuat semua team menjadi menangis, lalu namboru bercerita betapa menderitanya dia dahulu. Inilah tempatku mencari ilmu ujar namboru kepada team kemudian namboru meminta team untuk mendekat kepadanya, satu persatu team diusap dengan air serta kembang yang ada disana. Namboru juga membagikan kembang dari air yang ada. Melihat kejadian tersebut sang kuncen pun bingung, team bertanya kepada sang kuncen apakah itu benar Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul? sang kuncen menjawab ya itu Ibu Ratu.

Setelah selesai acara didalam gua namboru pamit dan berjanji akan melanjutkan pembicaraan kembali diluar gua. Team beserta kuncen keluar dari dalam gua, team tidak dapat menggambarkan rasa bahagia yang bercampur haru saat keluar dari gua.

Team beristirahat kurang lebih satu jam untuk kemudian melanjutkan tugas kembali memanggil namboru Nantinjo diluar gua. Nai Hotni merasa cemas dengan orang yang sedang bertapa ditempat namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut, takut-takut mereka tidak dapat menerima kehadiran team. Team menganjurkan agar nai Hotni tenang dan berusaha kembali untuk memanggil namboru Nantinjo. Nai hotnipun memanggil namboru nantinjo lalu team mengucapkan terima kasih terlebih dahulu kepada namboru sambil bersenda gurau. Team juga meminta kepada namboru Nantinjo untuk memanggil kembali namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut sebab pembicaraan didalam gua belum selesai.

Kemudian namboru Nantinjo memanggil namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut, setelah namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut datang, namboru berbicara dengan bahasa batak dan kemudian mereka berbincang-bincang dengan namboru. namboru meminta mereka agar mengumpulkan keturunannya yang ada disana, team pun memanggil orang­orang yang ada disekitar itu untuk berkumpul, dan yang anehnya namboru duduk diatas tapi kalu berbicara dengan team namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut duduk ditikar namboru Nantinjo. Puas sudah perasaan team untuk berbincang-bincang, akhirnya mereka meminta namboru ikut bersama team kembali ke Raja Batak. Namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut menyetujui permintaan team lalu namboru mengingatkan, karena ternyata team sampai tidak menyadari bahwa hari mulai gelap.

Menyadari kalau sudah malam dan tidak memungkinkan lagi untuk naik keatas kemudian team mengucapkan terima kasih dan meminta bantuan kepada namboru agar dilindungi dalam perjalanan pulang. namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut pun pergi, tinggallah team bersama namboru Nantinjo. Setelah berbincang dengan namboru team pamit kepada kuncen serta orang yang sedang bertapa ditempat namboru, mereka mengucapkan terima kasih kepada team karena mereka dapat bertemu dengan Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut. Setelah istrahat untuk melepaskan lelah, malam itu juga rombongan team kembali ke cianjur.

Tiba di cianjur team memanggil namboru Nantinjo dan mengucapkan terima kasih karena team telah selamat melaksanakan misi menjemput namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut mulai dari berangkat sampai kembali ke rumah nai hotni. Lalu team bertanya pada namboru Nantinjo apakah namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut akan ikut juga beserta rombongan pulang, namboru Nantinjo menjawab ikut. Team bertanya kepada namboru Nantinjo langkah apa yang harus dilakukan team selanjutnya? lalu namboru menyarankan bahwa mereka harus memberikan namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut ulos sibolang, ikan batak (Ihan) serta nasi tumpeng, yaitu mengadakan ritual yang sering kalian lakukan terhadap saya ujar namboru dan harus hal itu haruslah dihadiri semua perwakilan keturunan ibotonya. Team meminta namboru untuk memanggil namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut kembali, setelah namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut datang, saat itu mereka berbincang dengan bahasa batak. Team mengucapkan terima kasih karena perjalanan team sukses serta selamat sampai kembali ke cianjur, team juga sangat berterima kasih karena namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut mau kembali ke Si Raja Batak.

Namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut mengatakan begitulah dulu susahnya namborumu ini dan kalian harus mengalami sebahagian yang saya alami. Setelah puas ngobrol dengan namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut, namboru Nantinjo datang lagi? dan saat itu team bertanya kapan harus dilaksanakan upacara ritual kepada namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut sebagai tanda bahwa namboru itu telah kembali ke Raja Batak?, kapan waktu kalian bisa ujar namboru? diakhir pertemuan namboru Nantinjo mengingatkan team untuk menyayangi namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut seperti halnya menyayangi saya serta jangan lupa ceritakan ini kepada semua orang. Akhirnya teampun berunding malam itu kapan dilaksanakan upacara ritual kepada namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul

Biding Laut lalu team sepakat untuk mengadakan upacara ritual kepada namboru Tanggal 4 Mei 2004, pada tanggal tersebut sesuai kesepakatan diadakan upacara ritual kepada namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut sebagi tanda namboru itu kembali ke Keturunan Raja Batak. Setelah keperluan untuk ritual sudah lengkap keturunan iboto namboru Nantinjo dan Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut menyarankan agar memanggil namboru Nantinjo terlebih dahulu untuk mempertanyakan bagaimana cara menyampaikan ulos serta makanan yang telah tersedia kepada namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut. Namborupun memberikan petunjuk kepada seluruh keturunan ibotonya, setelah itu namboru pergi. Setengah jam setelah namboru pergi nai Hotni sepertinya kesurupan, yang hadir pada saat itu kaget karena tidak tahu apa yang terjadi, namun panuturi (penterjemah) ama nihotni mengatakan bahwa namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut akan datang.

Pada saat itu barulah mereka semua mengerti, namun tingkah nai Hotni semakin aneh dan akhirnya namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut datang. Satu persatu keturunan ibotonya mengucapkan sepatah dua kata kepada namboru sebagai perwakilan serta mengucapkan terima kasih atas bersedianya namboru kembali ke Si Raja Batak. Setelah selesai, keturunan ibotonya menyerahkan pakaian kebesaran namboru serta selendang dan dilanjutkandengan memberikan namboru makan ihan.

Awalnya namboru tidak mau, bahkan namboru bercanda apa ini? dalam bahasa sunda. Semua yang hadir menjawab makanan khas batak namboru. Bagaimana caranya makan ini? Kemudian namboru pun memakannya sedikit. Mereka yang hadirpun sampai lupa meletakkan nasi tumpeng di hadapan namboru. Setelah diletakkan didepan namboru, dengan bercanda namboru mengatakan nah ini baru makanan saya. Semua yang hadir tersenyum simpul melihat tingkah namboru. Ya wajar saja namboru melakukan hal tersebut karena baru pertama kali bertemu dengan keturunan ibotonya.

Namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut bercerita pahit getirnya perjalanan hidupnya sampai menemui ajal serta menjadi Roh. Roh namboru juga telah pernah pulang ke kampung halaman namun betapa kecewanya namboru sebab namboru sudah tidak diakui bahkan yang tertua keturunan Guru Tatea Bulan/Sibaso Bolon sudah menjadi Boru Pareme. Akhirnya namboru kembali lagi keperantaun. Kemudian namboru bertanya kepada yang hadir apakah mereka bersedia untuk memperbaiki hal tersebut? Semua keturunan ibotonya menyanggupi.

Kemudian keturunan ibotonya bertanya apalagi yang harus dilaksanakan selanjutnya setelah namboru kembali? Namboru menjawab, “sayangi saya dan rawat sebagai namborumu dan namboru meminta kalau keturunan ibotonya bersedia untuk mengadakan gondang sebab saya ingin menari” canda namboru. Keturunan ibotonya bertanya kapan itu harus dilaksanakan? Kapan waktunya dilaksanakan terserah kalian, yang penting kalian bersedia. Selanjunya kalian tanya saja sama adikku Nantinjo. Baiklah namboru kata mereka semua. Jikalau begitu nanti kami akan rundingkan dengan namboru Nantinjo jawab keturunan ibotonya. Sebelum namboru pulang namboru berpesan agar semua yang hadir menceritakan ke khalayak ramai bahwa Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut adalah Boru Si Raja Batak, lalu namboru pulang.

Kemudian namboru Nantinjo datang dan bertanya bagaimana anak ni ibotoku (keturunan abangku) apa kata kakak saya? lalu seorang utusan mengucapkan terima kasih atas perjuangan namboru Nantinjo untuk mengembalikan namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut serta memberikan kenang-kenangan atas usaha namboru berupa pakaian kebesaran beserta sebuah ulos sibolang, sama dengan yang diberikan kepada namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut. Bahkan ada salah seorang keturunanibotonya memberikan saputangan kepada namboru. Namboru juga mengucapkan terima kasih kepada semua yang hadir atas perhatian serta kasih sayangnyaterhadap namboru. Kemudian bagaimana tadi pembicaraan kalian dengan kakakku? yang hadir menjawab bahwa namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut sangat senang dan namboru meminta kalau boleh keturunan ibotonya harus mengadakan gondang untuk namboru Kanjeng Ratu Nyi RoroKidul Biding Laut.

Selanjutnya kami diminta berunding dengan namboru, kami hanya tinggal menunggu petunjuk dari namboru kapan akan dilaksanakan gondang tersebut.Kalau begitu saya tanya dulu kakak saya, setelah itu baru kita bahas kembali mengenai hal itu jawab namboru. Setelah itu namboru pulang. Team yang dulunya diutus namboru Nantinjo untuk menjemput namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding laut dipanggil namboru untuk mengabarkan keinginan namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut. Keinginan kakakku sebenarnya acara gondang itu dilaksanakan secepatnya tapi saya meminta kepada kakakku tiga atau empat bulan lagi dikarenakan adanya pekerjaan saya yang sangat berat kata namboru. Namborupun bertanya apakah kalian siap untuk mengadakan gondang tiga empat bulan lagi? Ya akan kami berusaha semaksimal mungkin namboru, jawab team. Dan mereka juga meminta agar kiranya namboru juga membantu agar gondang tersebut dapat terlaksana.

Tanggal 14 Juli 2004 namboru Nantinjo mengundang team dan namboru mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatinya. Pada saat itu namboru berkeluh kesah tentang Pulau Malau, apakah kalian (team) tidak dapat membantu saya untuk mengembalikan pulau malau? sebab saya melihat ada sekelompok malau yang mau mencoba mengembalikan pulau malau tanpa saya. Kemudian team menjawab, namborukan dapat menghalangi mereka dengan kesaktiannamboru. Namboru mengatakan bahwa sudah selama tiga tahun namboru menghalang-halangi rencana kelompok tersebut sampai kapan aku menghalangi?

Bahkan saya telah membuat kehidupan mereka semerawut (ruddut) tetapi tetap saja mereka tidak sadar. Mendengar itu team merasa bingung juga, team melihat ada rasa iba terhadap kelompok tersebut, sepertinya namboru menginginkan agar team berusaha meloby kelompok tersebut untuk tidak memaksakan kehendak mereka. Keinginan namboru jikalau niat mereka baik, kenapa dia tidak diajak sebagai pemilik pulau malau. Team pun berjanji kepada namboru akan berusaha semampunya untuk membantu namboru mengembalikan pulau malau sesuai petunjuk namboru. Team juga bertanya kapan akan dilaksanakan pengembalian pulau malau? namboru menjawab nanti saya beritahukan, saya akan memanggil kalian lagi kalau waktunya sudah tepat. Kemudian team bertanya kira-kira permintaan namboru Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul Biding Laut membuat gondang (margondang) kapan namboru menjawab kira-kira tiga atau empat bulan lagi usai itu namboru pulang.

Team mengambil kesimpulan sebelum kembali pulau malau namboru tidak akan pernah tenang. Bahkan siapapun yang berusaha menghalangi ketulusan hati namboru meskipun itu keturunan abangnya akan diberikan ganjaran. Untuk itu team mengajak seluruh pembaca keturunan Oppung Guru Tatea Bulan/Sibaso Bolon untuk mendukung seluruh rencana mulia namboru, mengingat masih banyak rencana namboru seperti:

1. Margondang tiga atau empat bulan lagi merayakan kembalinya namboru Biding Laut

2. MengembalikanPulauMalau

3. Membangun sopo sebagai pertanda di Parik Sabungan

4. Mempersatukan semua keturunan Oppung Guru Tatea Bulan/Sibaso Bolon

Akhir kata team mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang turut membantu secara moril maupun materil guna terwujudnya pembuatan buku ini. Team menghimbau dan mengajak seluruh pembaca ataupun keturunan Guru Tatea Bulan/SiBaso Bolon untuk menjaga nilai-nilai sejarah serta menghormati leluhur.

Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua beserta keturunan kita dikemudian hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar